IndeksSultra.com, Kendari- Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 di Sulawesi Tenggara (Sultra), Minggu 27 Oktober 2025.
Tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan panggilan reflektif bagi generasi muda untuk memahami makna perjuangan di era modern. Dalam amanatnya, Gubernur Sultra Andi Sumangerukka menegaskan bahwa bentuk perjuangan pemuda kini telah berubah dari fisik menjadi perjuangan berbasis intelektual, moral, dan integritas.
“Tugas kita hari ini bukan lagi mengangkat bambu runcing, tapi mengangkat ilmu, kerja keras, dan kejujuran. Semangatnya tetap sama: Indonesia tidak boleh kalah,” tegas Andi di hadapan peserta upacara di Kendari.
Menurutnya, pemuda masa kini menghadapi “ medan juang digital” yang menuntut kemampuan adaptasi, kreativitas, dan kejujuran di tengah derasnya arus informasi. Ia menilai tantangan generasi muda bukan lagi kolonialisme fisik, tetapi ancaman globalisasi dan krisis moral.
“Kita hidup di zaman yang cepat dan berat, tapi tidak boleh gentar. Masih banyak anak muda Indonesia yang jujur, tangguh, dan berani. Mereka inilah kekuatan sejati bangsa,” ujar Gubernur.
Andi juga menekankan pentingnya patriotisme yang nyata, bukan hanya slogan. Ia menyerukan agar pemuda menunjukkan cinta tanah air melalui tindakan membangun desa, berinovasi di bidang teknologi, atau menciptakan lapangan kerja.
“Kita butuh pemuda yang berdiri tegak walau badai datang. Patriotisme itu bukan kata-kata, tapi kerja nyata,” imbuhnya.
Mengutip pesan Presiden, Andi Sumangerukka turut memberikan motivasi bagi generasi muda Sulawesi Tenggara agar berani bermimpi besar dan tidak takut gagal.
“Seperti kata Pak Presiden, jangan takut bermimpi besar. Kalian adalah penentu masa depan bangsa,” ucapnya disambut tepuk tangan peserta.
Menutup sambutannya, Gubernur mengajak seluruh masyarakat menjaga semangat Sumpah Pemuda sebagai sumber inspirasi untuk membangun negeri.
“Api perjuangan tidak boleh padam. Mari buktikan bahwa bangsa Indonesia tetap besar karena semangat mudanya tak pernah hilang,” pungkasnya.
Upacara tersebut menjadi simbol kebangkitan generasi muda Sultra bukan hanya sebagai pewaris, tetapi penentu arah masa depan Indonesia melalui ilmu, etika, dan karya nyata.







Komentar