Wallacea Expeditions Ungkap Kekayaan Alam Sultra, Usulan Konservasi Terpadu 6.000 Km² Menguat

SULTRA404 Dilihat

IndeksSultra.com, Kendari- Upaya perlindungan keanekaragaman hayati dan warisan arkeologi di kawasan Wallacea memasuki tahap penting seiring berakhirnya rangkaian Wallacea Expeditions.

Penutupan kegiatan ini ditandai dengan Presentasi Hasil Ilmiah Wallacea Expeditions sekaligus pengajuan usulan pembentukan lanskap konservasi terpadu seluas sekitar 6.000 kilometer persegi yang mencakup wilayah Sulawesi Tenggara dan sekitarnya.

Dalam presentasi tersebut, para peneliti memaparkan hasil ekspedisi ilmiah multidisiplin yang mengungkap tingginya nilai ekologis, geologis, hidrologis, hingga budaya dan arkeologi kawasan Wallacea.

Kawasan ini dinilai sebagai salah satu bentang alam paling penting di Indonesia, baik dari sisi sejarah bumi maupun keanekaragaman hayati.

Paparan hasil riset disampaikan oleh Founder & President Naturevolution, Evrard Wendenbaum. Naturevolution merupakan organisasi non-pemerintah internasional berbasis di Prancis yang fokus pada konservasi alam, riset ilmiah, dan eksplorasi wilayah tropis.

Evrard menjelaskan, keterlibatan Naturevolution di Pulau Sulawesi telah dimulai sejak 2012 melalui eksplorasi Pegunungan Matarombeo.

Kawasan terpencil ini dalam sejumlah publikasi ilmiah disebut sebagai bagian dari unit hutan hujan primer terbesar yang masih tersisa di Sulawesi.

BACA JUGA  Gubernur Sultra Lantik 13 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dan Serahkan Surat Tugas Plh kepada Sejumlah Kepala OPD

Di wilayah tersebut masih ditemukan Sungai Lalindu, sistem gua karst berskala besar, jembatan alami, serta hamparan hutan pegunungan tropis yang relatif terjaga.

Selama rangkaian Wallacea Expeditions, tim peneliti mencatat berbagai temuan penting, mulai dari keberadaan spesies fauna endemik Sulawesi yang terancam punah, data ekologi hutan primer yang komprehensif, hingga identifikasi daerah tangkapan air yang menjadi sumber kehidupan bagi ratusan ribu penduduk.

Selain itu, ditemukan pula jejak budaya dan arkeologi berupa fragmen keramik, lukisan gua prasejarah, serta indikasi aktivitas manusia purba.

Namun demikian, ekspedisi juga mengungkap meningkatnya tekanan terhadap hutan primer Sulawesi. Perluasan perkebunan, pembukaan lahan, serta aktivitas pertambangan khususnya nikel menyebabkan fragmentasi hutan dalam skala yang mengkhawatirkan.

Analisis peta dan citra satelit menunjukkan adanya tumpang tindih antara kawasan hutan utuh dengan konsesi tambang, jalur pembalakan, dan area penimbunan material tambang.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, menilai ekspedisi dan riset lapangan di kawasan Gunung Tangkelemboke dan sekitarnya sebagai langkah berani dan strategis.

BACA JUGA  Momentum HAN 2025, Sultra Fokus Tekan Stunting dan Perkuat Hak Perlindungan Anak

Ia mengungkapkan, tim peneliti yang semula direncanakan berada di lapangan dalam waktu singkat justru bertahan hampir 50 hari dengan berbagai risiko demi memperoleh gambaran menyeluruh kondisi kawasan.

Hugua menyebut kawasan Gunung Tangkelemboke, Karst Matarombeo, dan wilayah sekitarnya sangat layak diusulkan sebagai kawasan konservasi nasional.

Hingga saat ini, kawasan tersebut belum memiliki izin usaha pertambangan (IUP), sehingga peluang perlindungan dan penyelamatan ekosistem masih terbuka luas. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kewenangan penetapan status kawasan hutan berada di tangan pemerintah pusat.

Menurutnya, perlindungan kawasan seluas kurang lebih 6.000 kilometer persegi ini sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan sungai-sungai utama, seperti Sungai Lasolo, Sungai Walalindo, dan Sungai Konaweha, yang menopang kehidupan masyarakat di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Selatan.

Seluruh temuan ilmiah Wallacea Expeditions kini dihimpun sebagai dasar advokasi dan bahan pembahasan dengan kementerian terkait, dengan harapan kawasan Wallacea tersebut dapat ditetapkan sebagai Taman Nasional sekaligus UNESCO Global Geopark.

Komentar