Dalam tausiyahnya, Hugua menyoroti pentingnya menjadikan puasa sebagai sarana pengendalian diri di tengah dinamika kehidupan modern. Ia menilai, tantangan zaman yang sarat persaingan dan orientasi materi kerap menjauhkan masyarakat dari nilai kebersamaan.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan mengelola emosi, menahan ego, dan menata kembali prioritas hidup. Dari situlah lahir pribadi yang lebih bijak dan masyarakat yang lebih harmonis,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah tidak semata diukur dari capaian fisik, melainkan juga kualitas moral warganya. Ramadan, kata dia, menjadi ruang refleksi untuk memperkuat empati, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
Ia mengajak masyarakat memperbanyak aksi nyata selama bulan suci, seperti berbagi dengan sesama, menjaga silaturahmi, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong. Solidaritas sosial dinilai sebagai fondasi penting dalam menciptakan stabilitas dan kesejahteraan daerah.
“Jika setiap individu mampu menekan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan bersama, maka harmoni sosial akan terbangun dengan sendirinya. Itulah kekuatan Ramadan,” tambahnya.
Melalui rangkaian kegiatan keagamaan sepanjang Ramadan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berharap nilai spiritual yang tumbuh di tengah masyarakat dapat berjalan seiring dengan penguatan solidaritas sosial, sehingga tercipta kehidupan yang lebih rukun, religius, dan berdaya saing.
Komentar