Kepala Disperindag Sultra, Sukanto Toding menegaskan skema yang digunakan akan sama seperti operasi pasar pada awal Ramadan.
Pemerintah akan menyediakan bahan kebutuhan pokok dan penting (Bappebing) seperti beras, gula, terigu, minyak goreng, hingga telur dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kita siap lagi H-10 Lebaran dengan formasi yang sama. Kita siapkan bahan pokok untuk memastikan harga tetap sesuai HET dan memberi koreksi jika ada harga di atas ketentuan,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan lapangan bersama Gubernur Sultra, stok pangan yang didistribusikan melalui Bulog dalam kondisi cukup, bahkan sebagian masih berada di bawah HET.
Fluktuasi harga di kabupaten/kota disebut masih dalam batas wajar, dengan kenaikan rata-rata berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 akibat faktor distribusi.
Untuk komoditas beras, pemerintah mengandalkan program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) sebagai instrumen utama menekan lonjakan harga. Skema ini dinilai efektif menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan jelang mudik dan Lebaran.
Selain itu, Disperindag juga mengingatkan kepada distributor dan pelaku usaha jika saat ini pengawasan diperkuat melalui Tim Saber (Sapu Bersih) pengamanan pangan dan mutu yang melibatkan unsur penegakan hukum.
“Sekarang sudah masuk nuansa penegakan hukum. Kalau ada yang bermain harga atau menimbun, sanksinya bisa sampai pencabutan izin usaha,” tegas Sukanto.
Dengan kombinasi intervensi pasar dan pengawasan ketat, Disperindag Sultra optimistis kebutuhan pangan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri tetap tersedia, stabil, dan terjangkau.**
Komentar