IndeksSultra.com, Kendari- Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kendari menggandeng 10 organisasi masyarakat sipil dalam upaya memperkuat pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program sosialisasi dan edukasi yang akan menyasar sejumlah sekolah di Kota Kendari.
Langkah ini diambil sebagai respons atas masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di wilayah ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Pemerintah daerah menilai pencegahan melalui edukasi sejak dini menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan kesadaran sekaligus melindungi kelompok rentan.
Kepala DP3A Kota Kendari, Fitriani Sinapoy mengatakan program ini akan melibatkan berbagai organisasi yang selama ini aktif mendampingi korban maupun mengampanyekan perlindungan hak perempuan dan anak.
“Sinergi lintas lembaga diperlukan agar pesan pencegahan dapat menjangkau lebih banyak kalangan,” katanya.
Sebagai tahap awal, kegiatan sosialisasi dijadwalkan berlangsung di 10 sekolah menengah pertama (SMP) dan satu sekolah dasar (SD). Sasaran utamanya adalah peserta didik baru yang tengah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Setelah itu, program akan diperluas ke sekolah lainnya, termasuk satuan pendidikan anak usia dini (PAUD).
Materi yang disampaikan meliputi pengenalan berbagai bentuk kekerasan, perundungan (bullying), dampak yang ditimbulkan, hingga langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika menjadi korban ataupun menyaksikan tindakan kekerasan.
Direktur Rumpun Perempuan Sulawesi Tenggara (RPS), Husnawati, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai kerja sama antara pemerintah dan organisasi masyarakat akan membuat upaya pencegahan lebih efektif karena melibatkan berbagai pihak yang memiliki pengalaman dalam isu perlindungan perempuan dan anak.
“RPS selama ini telah menjalankan berbagai program pendampingan dan edukasi. Namun, kolaborasi yang lebih luas diyakini akan memperbesar jangkauan serta dampak positif bagi masyarakat,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Yayasan Lambu Ina, Yustina Fendrita. Ia menekankan pentingnya edukasi sejak usia sekolah mengingat anak-anak merupakan kelompok yang rentan menjadi korban kekerasan maupun perundungan.
“Kami berharap para pelajar memperoleh pemahaman mengenai bentuk-bentuk kekerasan, dampaknya terhadap korban, serta mekanisme pelaporan apabila mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan di lingkungan sekitar,” harapnya.
Sebagai bentuk komitmen bersama, DP3A Kota Kendari menandatangani nota kesepahaman dengan empat organisasi, yakni Rumpun Perempuan Sultra (RPS), Yayasan Lambu Ina, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Sulawesi Tenggara, dan Jaringan Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara.
Selain keempat organisasi tersebut, program edukasi juga akan melibatkan Aliansi Perempuan Sultra, Forhati, Perempuan Katolik Sultra, Wahdah, Sarikat Perempuan, serta Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama sejumlah organisasi mitra lainnya. DP3A berharap kolaborasi ini mampu memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan ramah bagi seluruh peserta didik.







Komentar