IndeksSultra.com, Konawe Selatan- Bulir padi yang mulai menguning di lokasi perswahan Desa Lawoila, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi salah satu pertanda musim panen dilokasi tersebut segera tiba.
Dibalik datangnya musim panen tersimpan harapan besar para petani tentang hasil panen yang melimpah, harga gabah yang layak hingga kepastian akan jerih payah mereka selama berbulan-bulan tidak berakhir dengan sebuah kerugian.
Di tengah panen yang sedang dilakukan, salah satu anggota Kelompok Lumbung Tani Lawoila, Kemat berdiri memperhatikan hasil panen miliknya. Tangannya sesekali kembali memeriksa karung-karung berisi gabah yang telah dipanennya. Menurutnya, musim panen selalu membawa dua rasa sekaligus yaitu kesyukuran dan kecemasan.
“Kalau panennya bagus, sekali panen saya bisa dapat sekitar 3 ton beras dari lahan saya yang hanya 75 kali 100 meter persegi,” ujarnya.
Namun, sering kali tantangan yang hadir bukan hanya pada proses tanam dan panen saja. Persoalan yang paling besar adalah seringnya petani kesulitan dalam hal penjualan hasil panen mereka. Harga gabah yang sering kali anjlok hingga proses penjemuran yang harus dilakukan serta distribusi gabah yang memerlukan biaya yang cukup menguras kantong petani.

Kini Situasi Sulit Mulai Berubah
Hal tersebut diakui mulai berubah semenjak hadirnya program pemerintah melalui Perum BULOG yang memiliki mitra sebagai perpanjangan tangan pemerintah.
“Biasanya kami jual ke mitra BULOG, nanti mereka yang menjual ke BULOG,” katanya.
Perubahan ini, menurut Kemat memberikan dampak nyata bagi kehidupan para petani di desa. Sebab dengan kehadiran mitra BULOG membuat proses penjualan hasil panen petani jauh lebih muda dengan harga gabah yang menjadi relatif terkendali.
“Sekarang sudah lebih enak. Selama BULOG punya mitra di desa, kami tidak perlu lagi repot menjemur atau menjual gabah dengan harga rendah karena sudah ada jaminan lewat mitra mereka,” bebernya.
Perjalanan usai panen, tidak hanya berhenti ditangan petani namun kembali bergerak menuju lumbung-lumbung penggilingan untuk diproses menjadi beras.

Tumpukkan Gabah yang Berubah Menjadi Ketahanan Pangan Negeri
Suara mesin penggilingan terdengar terus bergemuru di sudut Desa Wonua, Kecamatan Konda yang menjadi pertanda aktifitas produksi gabah yang dipecah menjadi bursa telah di proses.
Tumpukkan gabah yang memeuhi area penggilingan Abbatireng yang merupakan mitra Perum Bulog Sultra yang mungkin bagi sebagian orang hanya sebagai lokasi pengolahan padi. Namum, bagi rantai pangan nasional, penggilingan ini menjadi salah satu simpul penting yang dapat menghubungkan para petani dengan cadangan pangan di negara ini.
Pemilik Penggilingan Abbatireng 78, Muh. Junaid mengatakan kemitraannya dengan BULOG Sultra telah berjalan selama lima tahun.
Selain itu, lokasi penggilingan ini tidak hanya sebagi tempat produksi tetapi juga pusat pengumpulan gabah dari tiga kabupaten di Sultra.
“Saya biasanya mengumpulkan gabah Konawe Selatan, Bombana dan Konawe. Setelah itu baru dibawa ke penggilingan di Kecamatan Konda,” jelasnya.
Aktivitas truk yang keluar masuk berganti membawa gabah hasil panen petani serta para pekerja yang terus memindahkan karung gabaj ke area penyimpanan sebelum diproses lebih lanjut.
Abbatireng sendiri memiliki daya tampung gabah hingga 500 ton. Angka itu menunjukkan skala kerja yang tidak kecil bagi sebuah penggilingan di daerah. Dari tempat inilah gabah dibersihkan, dikeringkan, dipisahkan dari kulitnya, lalu diolah menjadi beras yang siap disalurkan.
“Kalau setiap hari, kami bisa memproduksi sekitar 150 ton gabah menjadi beras,” katanya.
Kualitas beras harus terus terjaga agar memenuhi standar yang ditetapkan sebelum dikirim ke gudang BULOG. Bagi penggilingan, menjaga kualitas berarti menjaga kepercayaan, baik dari petani maupun dari BULOG sebagai mitra.
Setelah proses produksi selesai, perjalanan beras berlanjut menuju Gudang BULOG Punggaloba di Kendari.
“Sekali kirim, bisa sampai 45 ton beras ke gudang BULOG,” lanjutnya.
Bagi penggilingan mitra, kerja sama dengan BULOG memberi kepastian usaha. Program penyerapan dinilai mempermudah proses pembelian gabah dari petani karena ada kepastian pasar dan pola kerja yang lebih terstruktur.
“Semoga BULOG selalu menjaga konsistensi penerimaan gabah dan beras supaya kami sebagai mitra tidak rumit dalam pembelian,” ungkapnya.
Harapan konsistensi ini menjadi sebuah hal penting bagi penggilingan yang berada diposisi tengah antara petani dan Perum BULOG. Jika penyerapan gabah petani lanca maka akan ada kepastian harga dan penggilingan dapat terus melakukan produksinya.

Upaya Pemenuhan Target untuk Kebutuhan Pangan Negeri
Di usianya yang ke-59 tahun, BULOG menghadapi tantangan yang tidak mudah. Sebab, ketahanan pangan kini tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan beras, tetapi juga kemampuan menjaga kesinambungan produksi dan distribusi pangan di tengah perubahan cuaca, dinamika pasar, dan kebutuhan masyarakat yang terus meningkat.
Perum Bulog Sultra juga terus menggenjot penyerapan beras dari petani lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.
Tercatat hingga akhir April 2026, realisasi penyerapan telah mencapai sekitar 40.000 ton dari total target 119.000 ton untuk tahun ini.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Sultra, Benhur Ngkaimi menyampaikan bahwa target penyerapan tahun 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 100.000 ton.
Meski masih terdapat selisih sekitar 70 ribu ton, pihaknya tetap optimistis target tersebut dapat dicapai, bahkan berpotensi terlampaui.
“Tahun ini target kita 119.000 ton. Saat ini baru sekitar 40.000 ton yang terserap, artinya masih ada sekitar 70 ribuan ton lagi yang harus kita kejar,” ujarnya.
Menurut Benhur, dengan capaian penyerapan yang terus berjalan serta dukungan stok yang ada, posisi cadangan beras di Sultra diperkirakan tetap kuat hingga akhir tahun.
Bahkan, meskipun dilakukan penyaluran rutin melalui bantuan pangan dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), jumlah stok diyakini tetap tinggi.
“Perkiraannya, meskipun ada penyaluran bantuan pangan dan SPHP, stok di akhir tahun masih bisa berada di atas 120 ribu ton,” jelasnya.
Peningkatan target penyerapan ini merupakan bagian dari strategi nasional dalam memperkuat kedaulatan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Bulog Sultra pun berkomitmen untuk terus turun langsung ke lapangan guna menyerap hasil panen secara maksimal.
Optimisme itu tumbuh seiring meningkatnya produksi pangan di daerah. Namun di balik angka dan target, sesungguhnya ada kisah-kisah sederhana yang jarang terlihat petani yang berharap hasil panennya dihargai, penggilingan yang menjaga kualitas produksi, serta gudang-gudang yang menjadi benteng cadangan pangan.
Ketika bulir padi yang terletak di persawahan Lawoila menjadi harapan petani yang kemudian bergerak menuju penggilingan di Wonua, lalu melanjutkan perjalanan ke gudang negara di Kendari. Dari sanalah, beras tidak hanya hadir sebagai sebuah komoditas, melainkan simbol dari kolaborasi panjang antara sawah, mesin penggilingan, dan negara dalam menjaga pangan negeri.***
Peulis: Nur Cahaya







Komentar