OJK Dorong Budaya Menabung Sejak Dini, Literasi Keuangan Pelajar Masih Perlu Diperkuat

EKONOMI, NASIONAL93 Dilihat

IndeksSultra.com, Bekasi- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama kementerian dan lembaga, industri jasa keuangan, pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya terus memperkuat budaya menabung dan meningkatkan literasi serta inklusi keuangan masyarakat.

Penguatan tersebut terutama diarahkan kepada generasi muda sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian finansial dan kesejahteraan masyarakat.

Upaya itu diwujudkan melalui rangkaian Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026 yang digelar serentak di berbagai wilayah Indonesia dengan mengusung tema “Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan”.

Puncak kegiatan HIM dan BLK 2026 berlangsung di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, Jawa Barat. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono, Anggota Dewan Komisioner LPS Ferdinand D. Purba, Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso serta Dirjen Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Herman Saheruddin.

Kegiatan juga diikuti para kepala daerah dari wilayah penerima penghargaan KEJAR Award dan Financial Literacy Award, pimpinan serta asosiasi industri jasa keuangan, serta lebih dari 1.100 pelajar dan mahasiswa.

BACA JUGA  Model Bisnis Danantara Bikin Penasaran, OJK Sultra Lakukan Kunjungan Pembelajaran Bersama Insan Media

Friderica mengatakan budaya menabung perlu dibentuk sejak usia sekolah. Menurutnya, kebiasaan menyisihkan uang tidak harus menunggu seseorang memiliki penghasilan atau uang dalam jumlah besar.

“Menabung sejak dini sangat penting untuk masa depan kalian. Menabung itu jangan menunggu uang kita banyak dulu. Justru supaya uangnya banyak, kita harus menabung sedikit demi sedikit,” kata Friderica.

Dia menjelaskan, tingkat literasi dan inklusi keuangan secara nasional masing-masing telah mencapai 69,57 persen dan 93,61 persen. Meski capaian tersebut telah melampaui target, kondisi pada kelompok pelajar dan mahasiswa masih membutuhkan perhatian.

Segmen tersebut dinilai masih memiliki tingkat literasi dan inklusi keuangan yang berada di bawah capaian nasional. Karena itu, penguatan kolaborasi antara pemerintah, OJK, industri jasa keuangan, lembaga pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan menjadi penting.

Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) menjadi salah satu instrumen yang didorong untuk memperluas akses keuangan sekaligus membangun kebiasaan menabung di kalangan pelajar.

BACA JUGA  OJK Perluas Izin Dua Perusahaan Pergadaian ke Skala Nasional, Dorong Akses Pembiayaan Masyarakat

Program tersebut juga menjadi bagian dari kampanye berkelanjutan untuk mendukung target inklusi keuangan nasional sebesar 98 persen pada 2045 sebagaimana ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN).

Dalam sesi Leaders’ Insight, Dicky Kartikoyono menekankan bahwa kebiasaan menabung tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola uang.

Menurut dia, aktivitas menabung juga dapat membentuk karakter disiplin dan kemampuan mengendalikan diri sejak usia muda.

OJK bersama kementerian dan lembaga terkait berkomitmen melanjutkan berbagai program edukasi dan perluasan akses keuangan bagi anak-anak dan generasi muda di seluruh Indonesia.

Melalui HIM dan BLK 2026, penguatan budaya menabung diharapkan tidak berhenti pada kepemilikan rekening, tetapi juga diikuti kemampuan generasi muda dalam memahami, mengelola dan menggunakan produk serta layanan keuangan secara bijak.

Kolaborasi lintas sektor pun akan terus diperkuat agar peningkatan literasi berjalan seiring dengan perluasan inklusi keuangan, sehingga masyarakat semakin mampu mengambil keputusan finansial yang tepat dan mandiri menuju Indonesia Emas 2045.

Komentar