IndeksSultra.com, Jakarta- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong Pasar Modal Indonesia untuk memainkan peran strategis dalam mendukung agenda prioritas pemerintah, melalui penguatan integritas pasar, pendalaman likuiditas, perluasan basis investor institusi, serta percepatan pengembangan ekosistem bursa karbon yang kredibel dan berstandar internasional.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dalam sambutannya pada Pembukaan Perdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026 di Gedung BEI, Jumat.
Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Keuangan RI, Gubernur Bank Indonesia, Ketua LPS, pimpinan Komisi XI DPR RI, jajaran Dewan Komisioner OJK, Direksi BEI, serta pelaku pasar modal.
Mahendra menegaskan, OJK akan terus memperkuat pelindungan investor, khususnya investor ritel dan minoritas yang saat ini menjadi penopang utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pengawasan perilaku pasar (market conduct), termasuk pengawasan terhadap influencer keuangan atau finfluencer.
“OJK tengah menyiapkan regulasi khusus bagi finfluencer yang menekankan aspek kapabilitas, transparansi, dan kepatuhan perizinan. Aturan ini ditargetkan terbit pada pertengahan 2026 guna mendorong literasi investasi yang bertanggung jawab,” ujar Mahendra.
Ia juga mendorong peningkatan sinergi antar pemangku kepentingan untuk memperbesar peran pasar modal sebagai sumber pendanaan utama bagi emiten, sekaligus menjadikan sektor jasa keuangan sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, kolaborasi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi kunci menjaga stabilitas dan keberlanjutan sektor keuangan.
Sementara itu, Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengungkapkan bahwa BEI telah menyiapkan masterplan pengembangan pasar modal periode 2026–2030. Peta jalan tersebut menargetkan terwujudnya pasar modal yang inovatif, transparan, inklusif, dan berdaya saing global pada 2030.
“Target ini didukung penguatan infrastruktur pasar, peningkatan kualitas emiten dan investor, serta perluasan partisipasi publik,” kata Iman.
Kinerja Pasar Modal 2025 Positif
Pasar Modal Indonesia mencatatkan kinerja solid sepanjang 2025. IHSG ditutup di level 8.646,94 poin atau menguat 22,13 persen secara year on year, serta mencetak beberapa rekor tertinggi sepanjang tahun. Investor non-residen kembali membukukan net buy sebesar Rp36,23 triliun pada semester II-2025, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi nasional.
Dari sisi penghimpunan dana, tercatat 215 penawaran umum dengan total nilai Rp275 triliun hingga akhir 2025, termasuk 18 emiten baru dengan nilai IPO Rp14,41 triliun. Nilai transaksi harian rata-rata meningkat menjadi Rp18,1 triliun, seiring pertumbuhan Single Investor Identification (SID) yang mencapai 20,2 juta, didominasi investor berusia di bawah 40 tahun.
Meski demikian, OJK menilai masih terdapat ruang penguatan, terutama pada kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 72 persen, masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Peningkatan porsi transaksi investor ritel juga menegaskan pentingnya penguatan perlindungan investor dari praktik transaksi tidak wajar dan manipulasi pasar.
Arah Kebijakan Pasar Modal 2026
Memasuki 2026, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) akan fokus pada peningkatan kualitas emiten melalui penyempurnaan kebijakan pencatatan, peningkatan free float, transparansi kepemilikan manfaat akhir (ultimate beneficial owner), serta penguatan tata kelola perusahaan.
Selain itu, OJK mendorong penguatan basis investor institusi, seperti reksa dana, asuransi, dan dana pensiun, yang dinilai semakin siap meningkatkan alokasi investasi secara sehat dan berkelanjutan. Reformasi tata kelola pasar saham serta penguatan manajemen risiko dan teknologi informasi juga menjadi prioritas.
Dalam mendukung ekonomi hijau, OJK bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan BEI membangun Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai tindak lanjut Perpres Nomor 110 Tahun 2025 dan penyesuaian POJK Nomor 14 Tahun 2023, guna menghadirkan perdagangan karbon yang transparan, kredibel, dan terintegrasi dengan standar global.
OJK menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi industri dalam mewujudkan Pasar Modal Indonesia yang likuid, efisien, berintegritas, dan berdaya saing global, sekaligus menjadi pilar pembiayaan pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau nasional.***
Redaksi







Komentar