IndeksSultra.com, Kendari- Upaya mengembangkan potensi wisata Pulau Bungkutoko, Kota Kendari, mulai diarahkan pada pemanfaatan teknologi dan data spasial. Universitas Halu Oleo (UHO) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Terintegrasi KKN-Tematik 2026 menggunakan drone untuk memotret kondisi wilayah dari udara.
Pemotretan tersebut dilakukan sebagai bagian dari program bertema “Pendampingan Model Wisata Pulau Kecil Berbasis Analisis Spasial dan Studi Baseline Statistik untuk Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pulau Bungkutoko, Kota Kendari.”
Kegiatan yang berlangsung Juni hingga Agustus 2026 itu melibatkan tim dosen UHO, 15 mahasiswa, pemerintah Kelurahan Bungkutoko serta masyarakat setempat.
Data hasil pemotretan udara tidak hanya menjadi dokumentasi visual. Tim menggunakannya sebagai salah satu sumber informasi untuk memetakan lokasi yang memiliki potensi dikembangkan menjadi destinasi wisata sekaligus melihat keterkaitan antarwilayah.
Melalui analisis tersebut, tim menyusun peta visualisasi dan tata letak sejumlah lokasi wisata di Kelurahan Bungkutoko. Peta tersebut memuat jaringan jalan, garis pantai, batas wilayah hingga titik-titik lokasi yang dinilai memiliki potensi wisata.
Sejumlah lokasi yang masuk dalam pemetaan antara lain Pantai Kelapa, Pasir Putih, Pantai Harapan, Tracking Mangrove, Danau Kali Biru dan Kendari Waterfront.
Keberagaman tersebut menunjukkan potensi Bungkutoko tidak hanya bertumpu pada wisata pantai. Karakter pesisir, ekosistem mangrove, kawasan perairan dan ruang publik tepian air dapat dikembangkan menjadi rangkaian destinasi yang saling melengkapi.
Pantai Kelapa, misalnya, memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ruang rekreasi sekaligus destinasi wisata lokal. Lanskap pesisirnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bersantai, menikmati panorama dan aktivitas wisata yang terhubung dengan kehidupan masyarakat sekitar.
Sementara kawasan Pasir Putih menawarkan karakter pantai dengan pasir berwarna terang dan lingkungan pesisir terbuka. Pengembangannya dapat diarahkan pada aktivitas rekreasi pantai dengan tetap memperhatikan aspek kebersihan, aksesibilitas, fasilitas, keamanan serta kelestarian lingkungan.
Potensi serupa juga terlihat di Pantai Harapan. Lokasi yang berhadapan langsung dengan perairan tersebut berpeluang dikembangkan menjadi ruang rekreasi keluarga, fotografi, kuliner pesisir maupun ruang publik yang terintegrasi dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Untuk wisata berbasis lingkungan, kawasan Tracking Mangrove memberikan karakter yang berbeda. Kawasan tersebut dapat diarahkan sebagai lokasi ekowisata sekaligus sarana edukasi mengenai ekosistem pesisir, keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis mangrove.
Sementara itu, Danau Kali Biru memberikan alternatif wisata berbasis perairan yang dapat memperkaya pilihan destinasi di Bungkutoko. Kawasan ini berpotensi dikembangkan untuk rekreasi alam, fotografi, wisata edukasi dan ruang terbuka dengan tetap mempertimbangkan kondisi ekologis.
Kendari Waterfront juga masuk dalam pemetaan sebagai salah satu potensi wisata tepian air. Kawasan tersebut dapat menjadi ruang yang mempertemukan aktivitas masyarakat dengan ruang publik melalui rekreasi, kuliner, kegiatan sosial maupun aktivitas menikmati panorama perairan.
Dari hasil pemetaan, lokasi-lokasi tersebut tidak hanya dilihat sebagai objek yang berdiri sendiri. Jaringan jalan, kawasan permukiman, garis pantai dan fasilitas masyarakat menjadi bagian penting dalam menentukan keterhubungan antarlokasi.
Informasi tersebut dapat menjadi dasar awal untuk merancang jalur kunjungan maupun paket wisata yang menghubungkan beberapa destinasi dalam satu perjalanan.
Ketua tim kegiatan, Dr. Sawaludin, S.Pi., M.Sc., yang juga Ketua Jurusan Geografi FMIPA UHO, bersama timnya menempatkan pendekatan spasial sebagai bagian penting dalam proses pengembangan wisata Bungkutoko.
Pendekatan tersebut memungkinkan potensi wisata dilihat dalam konteks wilayah yang lebih luas. Dengan demikian, pengembangan tidak hanya berorientasi pada penambahan objek wisata, tetapi juga mempertimbangkan akses, kondisi lingkungan, permukiman, fasilitas dan daya dukung kawasan.
Selain pemetaan, kegiatan pengabdian juga diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat. Tim memberikan bimbingan teknis mengenai perencanaan kawasan wisata pulau kecil, penyusunan spot wisata baru, rencana lokasi camping ground, teknik pengambilan gambar menggunakan drone serta promosi wisata pulau kecil.
Mahasiswa yang terlibat juga mendapatkan pengalaman menerapkan pengetahuan akademik secara langsung di tengah masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, dosen berperan sebagai fasilitator dan mediator, sedangkan masyarakat dilibatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus pengembangan wilayah.
Program KKN-Tematik ini turut mendorong penyusunan basis data statistik Kelurahan Bungkutoko. Data tersebut diproyeksikan menjadi baseline yang dapat membantu pemerintah kelurahan dan masyarakat dalam memahami kondisi wilayah serta menyusun program pengembangan wisata berdasarkan informasi yang lebih terstruktur.
Pemanfaatan teknologi drone menjadi relevan karena Bungkutoko merupakan kawasan pesisir dan pulau kecil yang memiliki keterbatasan ruang serta keterkaitan langsung dengan lingkungan laut. Karena itu, pengembangan wisata membutuhkan perencanaan yang memperhatikan aspek ekonomi, sosial, ruang dan lingkungan secara bersamaan.
Hasil pemetaan diharapkan dapat membantu menentukan kawasan yang layak dikembangkan, lokasi yang membutuhkan penataan serta area yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengelolaan lingkungan.
Bagi masyarakat, peta dan visualisasi hasil pemotretan udara juga memberikan perspektif baru dalam melihat potensi wilayah. Berbagai lokasi yang sebelumnya dikenal berdasarkan pengalaman sehari-hari kini dapat ditampilkan dalam bentuk informasi spasial yang lebih terstruktur.
Program KKN-Tematik UHO 2026 menargetkan sejumlah capaian, mulai dari peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan wisata pulau kecil, tersusunnya rencana spot wisata baru, tersedianya hasil pemotretan lokasi wisata menggunakan drone hingga tersusunnya basis data statistik sebagai baseline pengembangan wisata.
Ke depan, data tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan perencanaan dan promosi destinasi dengan memperhatikan peningkatan aksesibilitas, fasilitas pendukung, konektivitas antarlokasi, kebersihan, keamanan serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata.
Dengan menggabungkan teknologi drone, analisis spasial, data statistik dan pendampingan masyarakat, UHO berupaya menghadirkan model pengembangan wisata Bungkutoko yang lebih berbasis data. Hasil kegiatan diharapkan menjadi pijakan awal bagi masyarakat dan pemerintah Kelurahan Bungkutoko untuk mengembangkan potensi wisata pesisir dan bahari secara berkelanjutan.
Tim pengabdian tersebut terdiri atas Dr. Sawaludin, S.Pi., M.Sc. sebagai ketua, bersama anggota Dr. Gusti Ngurah Adhi Wibawa, S.Si., M.Si., Dr. Laode Hadini, S.Pd., M.Si., Bahriddin Abapihi, S.Si., M.Si., Ph.D., Irma Yahya, S.Si., M.Si., dan Ahmad Hidayat, S.Pd., M.Sc.







Komentar