IndeksSultra.com, Kendari- Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) memperkuat sinergi dengan Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) Sultra dan PLN dalam mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla yang dapat mengganggu jaringan kelistrikan serta infrastruktur strategis di wilayah Sulawesi Tenggara.
Penguatan koordinasi tersebut dibahas dalam pertemuan antara jajaran Polda Sultra, Binda Sultra, dan PLN yang berlangsung di Lobby Utama Polda Sultra, Selasa 1 September 2026.
Pertemuan tersebut diawali dengan kunjungan Kepala BIN Daerah Sultra Marsma TNI Drs. Heroe Hermawan, M.M., bersama jajaran PLN Sultra ke Mapolda Sultra.
Rombongan PLN terdiri atas Manager UPT Kendari Muhammad Husen, Manager P2K Sultra Joni AH Sitorus, serta Manager UP3 Kendari Hery Supriyadi.
Kedatangan rombongan disambut langsung Kapolda Sultra Irjen Pol. Dr. Himawan Bayu Aji, S.H., S.I.K., M.H., didampingi Wakapolda Sultra Brigjen Pol. Budi Hermawan, S.I.K., bersama para pejabat utama Polda Sultra.
Dalam pertemuan tersebut, para pihak membahas langkah bersama dalam menghadapi potensi Karhutla, khususnya kebakaran yang terjadi di sekitar jaringan dan menara transmisi listrik.
Koordinasi lintas sektor dinilai penting untuk memperkuat langkah pencegahan, deteksi dini, serta penanganan apabila titik kebakaran ditemukan di kawasan yang berpotensi mengancam infrastruktur kelistrikan.
PLN dalam pertemuan itu turut menyampaikan adanya sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah yang terjadi di sekitar kawasan jaringan transmisi utama.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran yang mendekati jaringan bertegangan tinggi berpotensi mengganggu keandalan sistem kelistrikan.
Asap tebal yang dihasilkan dari kebakaran, termasuk partikel yang terbawa di udara, dapat meningkatkan risiko gangguan pada jaringan transmisi. Selain itu, panas yang ditimbulkan api juga berpotensi menyebabkan gangguan teknis pada sistem kelistrikan.
Salah satu risiko yang perlu diantisipasi adalah terjadinya flashover atau lompatan listrik pada jaringan transmisi.
Kebakaran yang terjadi dalam jarak sangat dekat juga dapat mengancam kabel penghantar maupun konstruksi menara akibat paparan panas dan kobaran api.
Gangguan terhadap jaringan transmisi menjadi persoalan serius karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam menyalurkan energi listrik.
Apabila gangguan terjadi pada titik strategis, terutama pada jaringan yang terhubung dalam sistem interkoneksi, dampaknya dapat meluas hingga menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut pada akhirnya juga berpotensi mengganggu berbagai layanan yang membutuhkan pasokan listrik secara berkelanjutan.
Rumah sakit, bandara, jaringan telekomunikasi, pelayanan pemerintahan, hingga aktivitas industri merupakan sejumlah sektor yang sangat bergantung pada keandalan sistem kelistrikan.
Karena itu, upaya mitigasi Karhutla tidak hanya berkaitan dengan perlindungan lingkungan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan publik dan keamanan objek vital.
Melalui sinergi antara Polda Sultra, Binda Sultra, dan PLN, pertukaran informasi mengenai potensi titik rawan Karhutla diharapkan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Koordinasi tersebut juga diharapkan dapat memperkuat langkah deteksi dini serta respons terhadap kebakaran sebelum berkembang dan mengancam jaringan kelistrikan.
Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan potensi Karhutla dapat ditangani sejak awal.
Dengan keterlibatan aparat keamanan, unsur intelijen, dan PLN, upaya pencegahan diharapkan semakin optimal dalam melindungi jaringan listrik, objek vital, serta aktivitas masyarakat di Sulawesi Tenggara.
Sinergi tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menjaga keamanan infrastruktur strategis dan memastikan pelayanan kelistrikan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.







Komentar