IndeksSultra.com, Kendari- Badan Pusat Statistik (BPS) menekankan pentingnya akurasi data dalam Survei Penyempurnaan Diagram Timbang Nilai Tukar Petani (SPDT NTP) 2026 untuk menghasilkan gambaran yang lebih riil mengenai kondisi ekonomi dan daya beli petani.
Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Hadi Susanto mengatakan kualitas data tersebut sangat bergantung pada kemampuan petugas dalam menggali informasi serta mencatat kondisi rumah tangga petani sesuai fakta di lapangan.
“Sektor pertanian memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, baik sebagai penyedia pangan, penyerap tenaga kerja, maupun penggerak ekonomi masyarakat perdesaan,” jelasnya saat penutupan Pelatihan Petugas SPDT NTP 2026 lingkup BPS Kabupaten Konawe Selatan, Kamis 8 Oktober 2026.
Namun, petani masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga komoditas, tingginya biaya produksi, hingga panjangnya rantai distribusi yang dapat memengaruhi posisi tawar mereka.
“Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi salah satu indikator penting untuk memantau perkembangan kondisi ekonomi petani,” lanjutnya.
Indikator ini membandingkan indeks harga yang diterima petani dari hasil penjualan produk pertanian dengan indeks harga yang dibayar untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga serta biaya produksi.
“Perkembangan NTP dapat menjadi salah satu bahan evaluasi untuk melihat perubahan daya beli petani sekaligus mendukung penilaian terhadap kebijakan pemerintah di sektor pertanian,” bebernya.
Karena itu, penyempurnaan diagram timbang diperlukan agar penghitungan NTP mampu mengikuti perubahan pola produksi, konsumsi, serta struktur ekonomi rumah tangga petani.
Melalui SPDT NTP 2026, BPS menghimpun informasi mengenai pola produksi dan konsumsi rumah tangga petani di wilayah perdesaan. Informasi tersebut digunakan untuk memperbarui paket komoditas beserta diagram timbang yang menjadi dasar penghitungan NTP agar lebih sesuai dengan kondisi aktual masyarakat.
“Pelaksanaan survei tidak hanya bergantung pada instrumen pendataan, tetapi juga pada pemahaman petugas terhadap konsep dan definisi statistik yang telah dipelajari selama pelatihan,” ucapnya.
Pihaknya , meminta seluruh petugas menerapkan materi pelatihan secara tepat serta menjalankan pendataan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Ketelitian dalam menggali informasi dari responden, menurutnya, menjadi bagian penting untuk meminimalkan kesalahan pencatatan dan memastikan data yang dikumpulkan benar-benar mencerminkan keadaan di lapangan.
Dirinya juga memberikan apresiasi kepada para Mitra Statistik yang telah mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan statistik bersama BPS. Ia berharap kolaborasi yang telah terbangun dapat terus dipertahankan hingga seluruh tahapan SPDT NTP 2026 selesai.
“Jaga kesehatan dan keselamatan selama menjalankan tugas di lapangan, sekaligus tetap berkomitmen menghasilkan data statistik yang berkualitas,” pesannua.
Melalui pelaksanaan SPDT NTP 2026, BPS berharap tersedianya data yang lebih akurat dan relevan untuk mendukung pemantauan kondisi ekonomi petani serta perumusan kebijakan pembangunan sektor pertanian yang lebih tepat sasaran.***
Redaksi







Komentar