IndeksSultra.com, Makassar- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terjebak perilaku konsumtif, tren fear of missing out (FOMO), investasi ilegal, hingga berbagai modus penipuan keuangan digital yang semakin beragam.
Generasi muda diharapkan mampu memahami risiko penggunaan produk dan layanan keuangan sekaligus menjadi agen literasi yang menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Hernawan B. Sasongko, dalam kegiatan OJK Mengajar bertema “Kenali, Pahami, dan Jelajahi OJK dan Sektor Jasa Keuangan” di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Selasa (3/11/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Islamic Finance Summit (IIFS) 2026 sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) OJK ke-15.
Hernawan mengatakan mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membantu meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sektor jasa keuangan.
Menurutnya, informasi yang diperoleh melalui kegiatan edukasi tidak seharusnya berhenti di lingkungan kampus, melainkan perlu diteruskan kepada keluarga, teman, dan komunitas.
“Mahasiswa dan mahasiswi ini betul-betul menjadi agen perubahan. Informasi yang diperoleh dapat dibagikan kepada teman-teman sekitar, keluarga, dan kerabat sehingga semakin banyak masyarakat yang memahami sektor jasa keuangan,” ujar Hernawan.
Ia menjelaskan, pemahaman terhadap sektor jasa keuangan menjadi semakin penting seiring berkembangnya berbagai produk dan layanan berbasis digital.
Kemudahan akses layanan keuangan perlu diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami manfaat, biaya, dan risiko sebelum menggunakan suatu produk.
Waspadai Penipuan Keuangan Digital
Dalam kesempatan tersebut, Hernawan menyoroti sejumlah risiko yang perlu menjadi perhatian mahasiswa, terutama perilaku konsumtif dan pengambilan keputusan keuangan yang dipengaruhi tren sesaat.
Fenomena FOMO dapat mendorong seseorang mengikuti penawaran produk keuangan tanpa melakukan penilaian secara memadai.
Selain itu, penyalahgunaan data pribadi, investasi ilegal, dan penipuan transaksi digital juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.
OJK mengingatkan mahasiswa agar selalu memeriksa legalitas penyelenggara sebelum menggunakan layanan keuangan.
Masyarakat juga perlu memahami karakteristik produk, termasuk potensi kerugian dan kewajiban yang harus dipenuhi.
Apabila mengalami permasalahan dengan produk atau layanan jasa keuangan, masyarakat dapat menghubungi Kontak OJK 157.
Sementara korban penipuan transaksi keuangan diimbau segera melapor melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) agar laporan dapat ditindaklanjuti secepatnya.
Mahasiswa Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Selain meningkatkan literasi, OJK mendorong mahasiswa mengembangkan jiwa kewirausahaan sejak berada di bangku kuliah.
Hernawan menilai mahasiswa memiliki peluang untuk menciptakan usaha yang mendukung pengembangan potensi ekonomi daerah.
OJK sendiri terus memperkuat keterlibatan sektor jasa keuangan dalam mendukung pembiayaan, peningkatan produktivitas, penguatan rantai pasok, serta perluasan akses pasar bagi komoditas unggulan.
Di wilayah Sulawesi, pengembangan ekosistem ekonomi tersebut antara lain mencakup komoditas kakao, pisang Cavendish, dan rumput laut.
Untuk komoditas kakao, penguatan diarahkan pada peningkatan produktivitas perkebunan, perbaikan mutu melalui fermentasi, hingga hilirisasi produk cokelat.
Sementara pengembangan pisang Cavendish dilakukan melalui peningkatan kualitas budi daya, pemenuhan standar pasar, dan penguatan hubungan dengan pembeli atau offtaker.
“Kita ingin kondisi industri keuangan di daerah itu bagus, tetapi juga memberikan nilai tambah untuk ekonomi di daerah-daerah semua,” kata Hernawan.
Menurutnya, pengembangan industri jasa keuangan perlu memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Wakil Rektor Universitas Hasanuddin, Subehan, mengapresiasi pelaksanaan OJK Mengajar karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa memperoleh pemahaman langsung dari praktisi sektor jasa keuangan.
Kolaborasi antara OJK dan perguruan tinggi diharapkan dapat memperkaya proses pembelajaran sekaligus meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan ekonomi dan perkembangan layanan keuangan.
Melalui kegiatan tersebut, OJK berharap mahasiswa dapat menjadi generasi yang lebih cakap dalam mengelola keuangan, mampu mengenali risiko, dan berperan aktif meningkatkan literasi masyarakat.






Komentar