Vale Indonesia Kerahkan Tim FES Tangani Karhutla di Puulemo dan Baula Kolaka

RAGAM65 Dilihat

IndeksSultra.com, Kolaka– PT Vale Indonesia Tbk mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Puulemo dan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Kebakaran yang terjadi di sekitar area Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa tersebut diperkirakan melanda total 121,68 hektare berdasarkan pemetaan sementara perusahaan.

Untuk mempercepat penanganan, perusahaan yang merupakan bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID) itu mengerahkan tim Fire and Emergency Services (FES) serta berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait.

Berdasarkan data sementara, kebakaran di Puulemo mencakup area seluas 31,68 hektare di dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Vale Indonesia. Sementara itu, kebakaran di Baula diperkirakan mencapai 90 hektare yang berada di dalam wilayah IUPK dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).

Penanganan di Puulemo dilakukan bersama BPBD. Adapun upaya penanganan di Baula masih menghadapi kendala akses menuju titik kebakaran, sehingga perusahaan tengah menyiapkan langkah lanjutan melalui pemetaan jalur, identifikasi sumber air, dan asesmen kondisi lapangan.

Head of Pomalaa Project Vale Indonesia, Mohammad Rifai, mengatakan perusahaan mengerahkan sumber daya yang tersedia untuk mendukung penanganan kebakaran secara terukur dan terkoordinasi.

BACA JUGA  PT Vale Indonesia Umumkan Komitmen Baru dalam Transformasi dan Hilirisasi Berkelanjutan

“Tim FES Vale Indonesia terus bekerja bersama BPBD untuk menangani kebakaran di Puulemo. Pada saat yang sama, kami sedang mempersiapkan respons terhadap kebakaran di Baula, mulai dari pemetaan akses menuju lokasi, identifikasi sumber air terdekat, asesmen lapangan, hingga koordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait,” ujar Rifai.

Menurutnya, keterbatasan akses menjadi salah satu tantangan utama dalam menjangkau titik kebakaran di Baula. Karena itu, Vale Indonesia berkoordinasi dengan tim eksplorasi untuk mengidentifikasi jalur yang dapat dilalui serta menentukan sumber air terdekat guna mendukung operasi pemadaman.

Perusahaan juga menyiapkan asesmen lapangan dengan pendampingan personel FES untuk memperoleh gambaran visual dan data aktual mengenai kondisi wilayah terdampak. Hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan metode penanganan yang sesuai dengan kondisi medan.

Rifai menegaskan, kecepatan penanganan harus tetap diimbangi dengan penerapan prosedur keselamatan bagi masyarakat dan seluruh personel yang terlibat.

“Setiap waktu sangat berarti dalam situasi seperti ini. Namun, keselamatan masyarakat dan seluruh personel yang terlibat harus tetap menjadi prioritas. Karena itu, kami memastikan setiap langkah dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan dan melalui koordinasi yang kuat dengan seluruh pihak,” katanya.

BACA JUGA  Ditlantas Polda Sultra Ikuti Evaluasi Nasional Ops Ketupat 2026 di Semarang

Selain mengerahkan personel, Vale Indonesia menyiapkan dukungan peralatan dan tenaga apabila diperlukan pembuatan sekat bakar untuk menghambat penyebaran api. Perusahaan juga memperbarui data harian mengenai luas wilayah terdampak, dokumentasi visual, serta koordinat titik kebakaran sebagai bahan pemantauan dan pengambilan keputusan.

Khusus untuk penanganan di Baula, koordinasi lanjutan akan dilakukan bersama Satuan Tugas Penanganan Karhutla, BPBD, Pemerintah Kabupaten Kolaka, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan. Informasi kejadian juga akan dilaporkan melalui sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan Sipongi.

Dengan mempertimbangkan luas wilayah terdampak dan kondisi medan, dukungan tambahan dari unsur terkait turut didorong untuk memperkuat upaya pemadaman. Sejumlah opsi penanganan, termasuk pembuatan sekat bakar, sedang dipertimbangkan berdasarkan hasil asesmen.

Apabila kondisi di lapangan tidak memungkinkan penanganan melalui jalur darat, dukungan udara juga dapat menjadi alternatif. Namun, keputusan mengenai langkah tersebut akan mempertimbangkan hasil asesmen, efektivitas penanganan, keselamatan personel, kondisi lingkungan, serta ketentuan perizinan yang berlaku.***

Komentar