IndeksSultra.com, Baubau- Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong penetapan status Cagar Budaya Nasional terhadap tiga makam Sultan Buton yang berada di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat perlindungan dan pemajuan warisan sejarah Kesultanan Buton sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Tiga situs yang diusulkan mendapatkan status Cagar Budaya Nasional tersebut yakni makam Sultan Murhum, Sultan Buton pertama, makam Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo, Sultan Buton ke-20, serta makam La Maani atau Oputa Kabumbu Malanga, Sultan Buton ke-22.
Dorongan tersebut disampaikan Fadli Zon saat melakukan kunjungan kerja ke kawasan Keraton Buton, Minggu 12 Juli 2026. Dalam kunjungan itu, Menteri Kebudayaan didampingi Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, Wali Kota Baubau Yusran Fahim, serta Wakil Wali Kota Baubau Wa Ode Hamsinah Bolu.
Fadli Zon mengatakan, saat ini Benteng Kesultanan Buton atau Benteng Wolio telah lebih dahulu ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Oleh karena itu, pemerintah berharap sejumlah situs penting lainnya di kawasan tersebut, termasuk makam para Sultan Buton, dapat segera memperoleh status yang sama.
“Benteng Kesultanan Buton sudah menjadi Cagar Budaya Nasional. Kita berharap situs-situs penting lainnya, termasuk makam para Sultan Buton, juga mendapatkan perhatian dan status serupa,” ujarnya.
Menurut Fadli Zon, upaya pelestarian budaya tidak hanya sebatas menjaga dan merawat peninggalan sejarah, tetapi juga harus mencakup pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan agar warisan budaya tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kota Baubau, serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan bersama Gubernur Sultra juga melakukan ziarah ke makam Sultan Murhum. Fadli Zon menyebut kawasan Keraton Buton memiliki nilai sejarah yang luar biasa dan menjadi salah satu aset budaya penting bagi bangsa Indonesia.
Ia optimistis, dengan penataan dan pengelolaan yang baik, kawasan tersebut dapat menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Benteng Kesultanan Buton atau Benteng Wolio sendiri merupakan salah satu peninggalan sejarah terbesar di Indonesia. Benteng yang memiliki panjang sekitar 2,75 kilometer tersebut dibangun sejak abad ke-16 pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-3, La Sangaji, dan diselesaikan pada masa Sultan Buton ke-4.
Keunikan benteng tersebut terletak pada proses pembangunannya yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Buton dengan memanfaatkan batu karang dan kapur lokal, bukan dibangun oleh kekuatan kolonial.
Dengan memiliki 12 pintu gerbang dan 16 bastion, Benteng Wolio menjadi simbol kejayaan Kesultanan Buton sekaligus bukti kekayaan sejarah dan budaya masyarakat Buton yang terus dijaga hingga saat ini.







Komentar